Pendahuluan
Kera
menyandang bedil manusia senang bugil. Sebuah ungkapan yang menggambarkan
keadaan manusia di zaman sekarang. Terdengar ironis memang. Manusia makhluk
ciptaan Allah yang dibekali dengan akal, potensi, dan fasilitas dibandingkan
dengan kera yang tidak mempunyai akal. Itulah kenyatanya.
Untuk
bersosialisasi dengan hewan lain atau sejenisnya, kawin, mencari makan, dan
bertahan hidup kera memiliki pola hidup yang teratur. Kera tidak akan akan
sembarangan mengawini betinanya yang telah dikawini pejantan lain. Bagaimana
dengan manusia? Kita sering mendengar dan membaca kasus pelecehan seksual baik
melalui media cetak maupun media elektronik. Padahal manusia adalah makhluk
sempurna yang mempunyai aturan untuk melakukan apapun selama hidup didunia.
Lalu,
apakah kedaan telah terbalik sekarang? Manusia hilang akal dan kera berakal.
Manusia kehilangan rasa malu dan hewan malah memiliki rasa malu. Kita sering
mendengar slogan “Tumbuhkan Budaya Malu”. Namun, slogan tersebut sepertinya
hanya menjadi hiasan dinding semata. Rasa malu tidak lagi direalisasikan dalam
arti yang sebenarnya. Mempertontonkan aurat, pergaulan bebas, dan menghalalkan
segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan, merupakan potret buram
runtuhnya sifat malu dalam diri manusia masa kini.
Malu dan Iman
Malu
adalah salah satu sifat dasar manusia. Seseorang akan merasa malu jika ia
dicela oleh orang lain didepan umum. Seseorang yang tidak memiliki rasa malu
akan dianggap memiliki akhlak yang rendah dan tak mampu mengendalikan hawa
nafsunya.
Allah
menganugerahkan rasa malu kepada manusia agar manusia selalu memperhatikan
tingkah lakunya. Selain itu, agar manusia tidak menyimpang dari ajaran Islam
yang sebenarnya. Rasa malu mencegah kita untuk melakukan kejahatan. Dengan
demikian rasa malu akan mendatangkan kebaikan bagi siapa saja yang memilikinya.
Sebagai
hambaNya, sudah seharusnyalah kita menghiasi diri kita dengan sifat malu. Allah
berfirman di dalam surat Al-Kahfi ayat 26:
“Hai
anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup
auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling
baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah,
mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Al-A’raf:26).
Dalam
menafsirkan ayat ini, Ma’bad Al-Juhani mengatakan bahwa yang dimaksud dengan
pakaian takwa adalah rasa malu. Sufyan bin Umayyah berkata: malu adalah takwa
yang paling ringan. Tidaklah seorang hamba itu takut sampai dia malu. Dan
tidaklah seorang yang bertakwa itu masuk ke dalam takwa melainkan dari pintu
malu.[1]
Rasa
malu merupakan bagian dari keimanan bahkan dia merupakan salah satu indikator
tinggi rendahnya keimanan seorang muslim. Rasulullah SAW bersabda:
“Malu
dan iman itu adalah dua sejoli. Jika salah satunya dicabut, maka yang satunya
pun akan tercabut.” (H.R. Al-Hakim).
Dengan
demikian malu adalah manifestasi dari iman. Maka, hanya orang-orang yang
imannya menancap kuat didalam hatilah yang memiliki rasa malu yang tinggi.
Intinya, malu tidaklah menghasilkan kecuali kebaikan dan dia tidaklah datang
kecuali dengan membawa kebaikan pula
.
Rasa Malu Ummat Islam
Masa Kini
Manusia merupakan makhluk Allah yang
paling istimewa karena Allah mengaruniakan rasa malu hanya kepada manusia bukan
kepada makhluk lainnya. Rasa malu adalah akhlak yang indah, paling utama,
paling mulia, dan paling agung, kehormatannya, serta paling banyak manfaatnya.[2]
Sungguh indah ajaran ajaran Islam. Islam
Akan tetapi, sesuatu yang kita
dapati sekarang tidak seperti apa yang diinginkan oleh islam. Kehidupan sekarang
sudah tidak lagi menggambarkan kehidupan yang damai dan tentram. Ummat islam
sekarang sering keliru meletakkan rasa malu atau malah memang rasa malu itu
telah sirna dari dalam diri ummat islam. Seringkali kita mendengar rasa malu
dalam persepsi lain. Jika rasa malu sudah terkikis, kita tidak akan merasa malu
lagi melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran syari’at.
Sekarang ini, remaja putri kita
tidak akan merasa malu lagi jika mempertontonkan dada, lengan dan paha mereka
di tempat umum. Sepertinya bagian-bagian tubuh tersebut bukan lagi merupakan
bagian tubuh yang wajib ditutup. Mereka mengenakan pakaian minim di
tempat-tempat umum dengan begitu percaya diri. Bahkan merasa bangga menjadi
pusat perhatian kaum laki-laki yang menyukai ketelanjangan. Bukan hanya di
layar kaca, tapi dalam kehidupan yang sebenarnya pamer aurat wanita sudah
menjadi trend yang jika tidak diikuti maka akan menimbulkan perasaan malu
dikalangan remaja putri. Meskipun banyak juga remaja putri yang menyadari
kewajiban untuk tunduk dan patuh pada perintah agama tentang menutup aurat,
tapi jauh lebih banyak lagi remaja putri
yang merelakan dirinya menjadi bagian dari pameran aurat. Yang lebih
anehnya lagi, para remaja putri tersebut akan marah jika dikatakan tidak
memiliki rasa malu.
Orang tua merasa malu jika anaknya
menghabiskan waktu untuk membaca Al-Qur’an atau menempuh pendidikan agama.
Orang tua merasa malu jika anak gadisnya menutup auratnya. Karena mereka takut
kalau anaknya tidak laku nantinya. Orang tua melarang anaknya mengikuti majlis
taklim dan mengatakan kegiatan pengajian hanya untuk orang tua bukan kaum muda.
Institusi sekolah dan perguruan
tinggi tidak sungkan-sungkan meminta tips kepada calon siswa dan mahasiswanya
jika mereka ingin mengecap pendidikan di institusi tersebut. Instansi
pemerintahan tidak segan-segan memungut uang kecil dari kantong rakyat jika
rakyat membutuhkan bantuan mereka. Meskipun prakteknya tidak terlalu terlihat,
namun hal tersebut memang terjadi.
Dari fenomena diatas, dapat kita
katakan jika malu tidak lagi menuntun ummat islam untuk menjauhi larangan
Allah. Tetapi, malah rasa malu untuk mengerjakan perintahNya dan rasa malu
untuk menunjukkan identitas keislaman. Rasa malu yang seperti inilah yang memudahkan
para kaum salibi dan orientalis untuk menggoyahkan dan menghancurkan ummat
Islam.
Dengan terkikisnya rasa malu dari
ummat Islam, kaum salibi dan orientalis semakin gencar meneriakkan slogan
“kebebasan”. Yaitu, kebebasan dari rumah, bebas berpakaian, dan bebas dari
akhlak dan akidah. Mereka semakin bersatu padu untuk merusak ummat Islam dan
mengikis rasa malunya dalam artian yang sebenarnya melalui jalan seperti
majalah, minuman keras, teater, penyebaran cerita-cerita dan sandiwara moral,
dan penentangan terhadap ajaran dan tradisi Islam. Mereka menanamkan pemikiran
kepada ummat Islam bahwa mereka akan merasa malu jika tidak mengikuti apa yang
telah mereka tawarkan.[3]
Menumbuhkan Rasa Malu
Sebagai orang
Islam yang masih menginginkan kejayaan Islam, sudah tentu kita resah melihat
keadaan ummat Islam sekarang yang telah terkikis rasa malunya. Tentunya kita
berharap Islam bukan hanya sekedar namanya saja. Tetapi, menciptakan lingkungan
dan generasai Islami yang tidak malu menunjukkan identitas keislamannya. Salah
satu caranya yaitu dengan menumbuhkan budaya malu dalam artian yang sebenarnya,
yaitu rasa malu jika tidak menunjukkan identitas keislaman kita kepada dunia.
Tentunya,
bukan hal yang mudah menumbuhkan budaya
malu dilingkungan kita. Namun, kita akan dapat merealisasikannya jika kita
benar-benar melakukannya dengan ikhlas. Dan hal pertama yang dapat kita lakukan
adalah dengan mengubah diri kita terlebih dahulu. Seperti konsep 3 M nya Aa Gym
yang merupakan konsep mengubah diri guna mengubah dunia. Yang pertama yaitu,
mulailah dari hal yang paling kecil. Maksudnya, segala sesuatu tentu ada
urutannya, tidak langsung menjadi besar. Yang kedua yaitu mulailah dari diri
sendiri. Jika kita ingin menumbuhkan budaya malu, mulailah dari diri kita.
Mulailah untuk menanamkan sifat malu jika tidak menjalankan perintah Allah.
Mulailah menumbuhkan sifat malu jika kita tidak menunjukkan identitas keislaman
kita. Yang ketiga yaitu, mulailah dari sekarang. Mulailah dari sekarang
menumbuhkan sifat malu didalam diri kita dan menjaganya agar sifat malu
tersebut tidak mudah terkikis.
Penutup
Malu adalah
suatu akhlak terpuji yang mendorong seseorang untuk meninggalkan suatu amalan
yang mencoreng jiwanya, karena akhlak ini bisa mendorong dia untuk berbuat
kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Seseorang yang mempunyai rasa malu, maka
dapat dipastikan dia mempunyai iman yang kuat yang tertanam didalam hatinya.
Rasa malu yang sebenarnya tidak akan akan menyebabkan kita malu untuk
menunjukkan identitas keislaman kita. Kita malah akan merasa malu jika kita
melanggar perintah Allah dan menutup-nutupi identitas keislaman kita.
DAFTAR PUSTAKA
Albani, Muhammad, (2011), Muslimah Jadilah Shalihah, Solo: Kiswah
Media.
Al-Qur’anul
Kariim.
Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah
At-Tuwaijiri, (2008), Al-Ikhlaashotu Fii
Fiqhil Al-Quluub, edisi terjemahan: Seni
Menghidupkan Hati, Solo: Pustaka Iltizam.
‘Ulwan,
Abdullah Nashih, (2003), Asy-syabab
Al-Muslimu Fii Muwaajatihi At-Tahaddiyatihi, edisi terjemahan: Abu Abid Al-Qudsi, Pustaka Al-‘Alaq.
[1]
Dr. Muhammad Muqaddam dalam
Muhammad Albani, Muslimah Jadilah
Shalihah, Kiswah Media, Solo, 2011, hal. 22.
[2] Muhammad bin Ibrahim bin
Abdullah At-Tuwaijiri, Al-Ikhlaashotu Fii
Fiqhil Al-Quluub, edisi terjemahan: Seni
Menghidupkan Hati, Pustaka Iltizam, Solo, 2008, hal.193.
[3] Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan, Asy-syabab Al-Muslimu Fii Muwaajatihi
At-Tahaddiyatihi, edisi terjemahan: Abu Abid Al-Qudsi, Pustaka Al-‘Alaq,
2003, hal. 90.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar