Sabtu, 29 Oktober 2011

MALU MENUNJUKKAN IDENTITAS KEISLAMAN


Pendahuluan
Kera menyandang bedil manusia senang bugil. Sebuah ungkapan yang menggambarkan keadaan manusia di zaman sekarang. Terdengar ironis memang. Manusia makhluk ciptaan Allah yang dibekali dengan akal, potensi, dan fasilitas dibandingkan dengan kera yang tidak mempunyai akal. Itulah kenyatanya.
Untuk bersosialisasi dengan hewan lain atau sejenisnya, kawin, mencari makan, dan bertahan hidup kera memiliki pola hidup yang teratur. Kera tidak akan akan sembarangan mengawini betinanya yang telah dikawini pejantan lain. Bagaimana dengan manusia? Kita sering mendengar dan membaca kasus pelecehan seksual baik melalui media cetak maupun media elektronik. Padahal manusia adalah makhluk sempurna yang mempunyai aturan untuk melakukan apapun selama hidup didunia.
Lalu, apakah kedaan telah terbalik sekarang? Manusia hilang akal dan kera berakal. Manusia kehilangan rasa malu dan hewan malah memiliki rasa malu. Kita sering mendengar slogan “Tumbuhkan Budaya Malu”. Namun, slogan tersebut sepertinya hanya menjadi hiasan dinding semata. Rasa malu tidak lagi direalisasikan dalam arti yang sebenarnya. Mempertontonkan aurat, pergaulan bebas, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan, merupakan potret buram runtuhnya sifat malu dalam diri manusia masa kini.  

Malu dan Iman
Malu adalah salah satu sifat dasar manusia. Seseorang akan merasa malu jika ia dicela oleh orang lain didepan umum. Seseorang yang tidak memiliki rasa malu akan dianggap memiliki akhlak yang rendah dan tak mampu mengendalikan hawa nafsunya.
Allah menganugerahkan rasa malu kepada manusia agar manusia selalu memperhatikan tingkah lakunya. Selain itu, agar manusia tidak menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya. Rasa malu mencegah kita untuk melakukan kejahatan. Dengan demikian rasa malu akan mendatangkan kebaikan bagi siapa saja yang memilikinya.
Sebagai hambaNya, sudah seharusnyalah kita menghiasi diri kita dengan sifat malu. Allah berfirman di dalam surat Al-Kahfi ayat 26:
Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Al-A’raf:26).
Dalam menafsirkan ayat ini, Ma’bad Al-Juhani mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pakaian takwa adalah rasa malu. Sufyan bin Umayyah berkata: malu adalah takwa yang paling ringan. Tidaklah seorang hamba itu takut sampai dia malu. Dan tidaklah seorang yang bertakwa itu masuk ke dalam takwa melainkan dari pintu malu.[1]
Rasa malu merupakan bagian dari keimanan bahkan dia merupakan salah satu indikator tinggi rendahnya keimanan seorang muslim. Rasulullah SAW bersabda:
Malu dan iman itu adalah dua sejoli. Jika salah satunya dicabut, maka yang satunya pun akan tercabut.” (H.R. Al-Hakim).
Dengan demikian malu adalah manifestasi dari iman. Maka, hanya orang-orang yang imannya menancap kuat didalam hatilah yang memiliki rasa malu yang tinggi. Intinya, malu tidaklah menghasilkan kecuali kebaikan dan dia tidaklah datang kecuali dengan membawa kebaikan pula
.
Rasa Malu Ummat Islam Masa Kini
            Manusia merupakan makhluk Allah yang paling istimewa karena Allah mengaruniakan rasa malu hanya kepada manusia bukan kepada makhluk lainnya. Rasa malu adalah akhlak yang indah, paling utama, paling mulia, dan paling agung, kehormatannya, serta paling banyak manfaatnya.[2] Sungguh indah ajaran ajaran Islam. Islam
            Akan tetapi, sesuatu yang kita dapati sekarang tidak seperti apa yang diinginkan oleh islam. Kehidupan sekarang sudah tidak lagi menggambarkan kehidupan yang damai dan tentram. Ummat islam sekarang sering keliru meletakkan rasa malu atau malah memang rasa malu itu telah sirna dari dalam diri ummat islam. Seringkali kita mendengar rasa malu dalam persepsi lain. Jika rasa malu sudah terkikis, kita tidak akan merasa malu lagi melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran syari’at.
            Sekarang ini, remaja putri kita tidak akan merasa malu lagi jika mempertontonkan dada, lengan dan paha mereka di tempat umum. Sepertinya bagian-bagian tubuh tersebut bukan lagi merupakan bagian tubuh yang wajib ditutup. Mereka mengenakan pakaian minim di tempat-tempat umum dengan begitu percaya diri. Bahkan merasa bangga menjadi pusat perhatian kaum laki-laki yang menyukai ketelanjangan. Bukan hanya di layar kaca, tapi dalam kehidupan yang sebenarnya pamer aurat wanita sudah menjadi trend yang jika tidak diikuti maka akan menimbulkan perasaan malu dikalangan remaja putri. Meskipun banyak juga remaja putri yang menyadari kewajiban untuk tunduk dan patuh pada perintah agama tentang menutup aurat, tapi jauh lebih banyak lagi remaja putri  yang merelakan dirinya menjadi bagian dari pameran aurat. Yang lebih anehnya lagi, para remaja putri tersebut akan marah jika dikatakan tidak memiliki rasa malu.
            Orang tua merasa malu jika anaknya menghabiskan waktu untuk membaca Al-Qur’an atau menempuh pendidikan agama. Orang tua merasa malu jika anak gadisnya menutup auratnya. Karena mereka takut kalau anaknya tidak laku nantinya. Orang tua melarang anaknya mengikuti majlis taklim dan mengatakan kegiatan pengajian hanya untuk orang tua bukan kaum muda.
            Institusi sekolah dan perguruan tinggi tidak sungkan-sungkan meminta tips kepada calon siswa dan mahasiswanya jika mereka ingin mengecap pendidikan di institusi tersebut. Instansi pemerintahan tidak segan-segan memungut uang kecil dari kantong rakyat jika rakyat membutuhkan bantuan mereka. Meskipun prakteknya tidak terlalu terlihat, namun hal tersebut memang terjadi.
            Dari fenomena diatas, dapat kita katakan jika malu tidak lagi menuntun ummat islam untuk menjauhi larangan Allah. Tetapi, malah rasa malu untuk mengerjakan perintahNya dan rasa malu untuk menunjukkan identitas keislaman. Rasa malu yang seperti inilah yang memudahkan para kaum salibi dan orientalis untuk menggoyahkan dan menghancurkan ummat Islam.
            Dengan terkikisnya rasa malu dari ummat Islam, kaum salibi dan orientalis semakin gencar meneriakkan slogan “kebebasan”. Yaitu, kebebasan dari rumah, bebas berpakaian, dan bebas dari akhlak dan akidah. Mereka semakin bersatu padu untuk merusak ummat Islam dan mengikis rasa malunya dalam artian yang sebenarnya melalui jalan seperti majalah, minuman keras, teater, penyebaran cerita-cerita dan sandiwara moral, dan penentangan terhadap ajaran dan tradisi Islam. Mereka menanamkan pemikiran kepada ummat Islam bahwa mereka akan merasa malu jika tidak mengikuti apa yang telah mereka tawarkan.[3]

Menumbuhkan Rasa Malu
Sebagai orang Islam yang masih menginginkan kejayaan Islam, sudah tentu kita resah melihat keadaan ummat Islam sekarang yang telah terkikis rasa malunya. Tentunya kita berharap Islam bukan hanya sekedar namanya saja. Tetapi, menciptakan lingkungan dan generasai Islami yang tidak malu menunjukkan identitas keislamannya. Salah satu caranya yaitu dengan menumbuhkan budaya malu dalam artian yang sebenarnya, yaitu rasa malu jika tidak menunjukkan identitas keislaman kita kepada dunia.
Tentunya, bukan hal yang mudah menumbuhkan  budaya malu dilingkungan kita. Namun, kita akan dapat merealisasikannya jika kita benar-benar melakukannya dengan ikhlas. Dan hal pertama yang dapat kita lakukan adalah dengan mengubah diri kita terlebih dahulu. Seperti konsep 3 M nya Aa Gym yang merupakan konsep mengubah diri guna mengubah dunia. Yang pertama yaitu, mulailah dari hal yang paling kecil. Maksudnya, segala sesuatu tentu ada urutannya, tidak langsung menjadi besar. Yang kedua yaitu mulailah dari diri sendiri. Jika kita ingin menumbuhkan budaya malu, mulailah dari diri kita. Mulailah untuk menanamkan sifat malu jika tidak menjalankan perintah Allah. Mulailah menumbuhkan sifat malu jika kita tidak menunjukkan identitas keislaman kita. Yang ketiga yaitu, mulailah dari sekarang. Mulailah dari sekarang menumbuhkan sifat malu didalam diri kita dan menjaganya agar sifat malu tersebut tidak mudah terkikis.

Penutup
Malu adalah suatu akhlak terpuji yang mendorong seseorang untuk meninggalkan suatu amalan yang mencoreng jiwanya, karena akhlak ini bisa mendorong dia untuk berbuat kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Seseorang yang mempunyai rasa malu, maka dapat dipastikan dia mempunyai iman yang kuat yang tertanam didalam hatinya. Rasa malu yang sebenarnya tidak akan akan menyebabkan kita malu untuk menunjukkan identitas keislaman kita. Kita malah akan merasa malu jika kita melanggar perintah Allah dan menutup-nutupi identitas keislaman kita. 

           
                                            DAFTAR PUSTAKA

Albani, Muhammad, (2011), Muslimah Jadilah Shalihah, Solo: Kiswah Media.
Al-Qur’anul Kariim.
Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, (2008), Al-Ikhlaashotu Fii Fiqhil Al-Quluub, edisi terjemahan: Seni Menghidupkan Hati, Solo: Pustaka Iltizam.

‘Ulwan,  Abdullah Nashih, (2003), Asy-syabab Al-Muslimu Fii Muwaajatihi At-Tahaddiyatihi, edisi terjemahan: Abu Abid Al-Qudsi, Pustaka Al-‘Alaq.



[1] Dr. Muhammad Muqaddam dalam Muhammad Albani, Muslimah Jadilah Shalihah, Kiswah Media, Solo, 2011, hal. 22.
[2] Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, Al-Ikhlaashotu Fii Fiqhil Al-Quluub, edisi terjemahan: Seni Menghidupkan Hati, Pustaka Iltizam, Solo, 2008, hal.193.
[3] Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan, Asy-syabab Al-Muslimu Fii Muwaajatihi At-Tahaddiyatihi, edisi terjemahan: Abu Abid Al-Qudsi, Pustaka Al-‘Alaq, 2003, hal. 90. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar